You are here: Home Article Ananda Debby Pratami; Atlet Karate Berprestasi Internasional

PB FORKI

Ananda Debby Pratami; Atlet Karate Berprestasi Internasional

E-mail Print PDF

Posted by:

Pelajar kelas 12 IPS 1 SMAN 5 Kota Bengkulu, Ananda Debby Pratami (17) kembali mengukir prestasi gemilang. Namanya tercatat sebagai penerima penghargaan olahragawan pelajar berprestasi jenjang pendidikan sekolah menengah atas/sederajat cabang karate dari Kementerian Pemuda dan Olahraga RI. Penghargaan diserahkan langsung Menteri Pemuda dan Olahraga RI KRMT Roy Suryo Notodiprojo, di Solo Jawa Tengah, 9 – 10 September 2014 lalu.

SIAPA sangka si cengeng Ananda Debby Pratami di kala kecil, bisa menjadi atlet karate. Tak tanggung-tanggung kiprahnya di olahraga penuh risiko ini sudah mencapai kancah internasional. Dara kelahiran Bengkulu, 7 Juni 1997 ini menekuni karate lantaran “dipaksa” orangtuanya.

“Ikut karate sejak kelas 3 SD. Dorongan orangtua sih. Dulu saya ini terlalu cengeng. Sehingga diikutkan karate biar nggak cengeng. Awalnya malas, takut, nanti dibanting. Nggak mau latihan, tapi tetap saja diantar papa, diberi motivasi. Hingga rasa takut itu hilang,” cerita putri pasangan Joko Pitono dan Cendra Andrian ini.

Jangan pernah puas dengan hasil yang pernah ada, tapi coba untuk menjadi lebih baik. Komitmen itu selalu ditanamkan dara yang akrab disapa Nanda ini. Komitmen itu pula yang membuatnya berhasil mengukir berbagai prestasi. Seperti juara 1 5th Silent Knight Open Champion Kuala Lumpur Malaysia 2014, juara 2 Piala Mendagri Bali 2013, juara 2 Basel Open Tournament Swiss 2013, juara 1 O2SN Karate Kaltim 2013, serta juara 1 Kejurnas Inkanas Kumite-59 Putri 2013.

“Dari kelas 5 SD sudah mulai ikut pertandingan. Medali pertama yang saya dapat tahun 2013. Juara 1 Kejurnas Inkanas Kumite-59 Putri tahun 2013,” kenangnya.

Dari sekian banyak pertandingan yang sudah diikuti, menurutnya pertandingan paling berkesan saat bertarung di Swiss. “Itu pertama kali saya ke luar negeri. Membela negara. Waktu tanding, pendukung Indonesia heboh sekali, teriak yel yel. Akhirnya satu GOR tepuk tangan buat kita,” ujarnya.

Kala itu hanya ada 6 orang perwakilan Indonesia. Yakni 2 atlet dari Surabaya, 2 atlet dari DKI Jakarta, 1 atlet dari Sulawesi Utara, serta 1 atlet dari Bengkulu. “Saya satu-satunya atlet dari Bengkulu. Bangga dan haru, apalagi waktu itu bisa meraih juara 2 Basel Open Tournament Swiss 2013,” ungkap Nanda.

Diakuinya, ikut karate memberi banyak manfaat baginya. Terutama untuk melatih kepercayaan diri. “Nggak cengeng lagi pastinya. Lebih mudah bergaul, banyak teman. Sekarang lebih percaya diri. Memang sih olahraga ini berisiko. Tapi sekarang sudah terbiasa, nggak ada rasa takut lagi. Kalau nggak latihan sekarang malah bingung,” katanya.

Meski aktif karate, Nanda mengaku tetap bisa membagi waktu belajar. Terlebih kini dia akan menghadapi ujian nasional. “Sekarang sudah kelas 12, persiapan ujian nasional. Latihan diringankan, jadwalnya yang tadinya sore diganti malam. Pagi sekolah, sore les, malam latihan karate,” bebernya.

Nanda memiliki jadwal khusus latihan. Setiap Rabu, Jumat, Sabtu dan Minggu. Dia dilatih oleh Jefrey Tambunan di Perguruan Karate Inkanas. “Harapannya tetap berprestasi, sukses menghadapi berbagai kejuaraan lagi,” harapnya. (**)

Sumber :  http://harianrakyatbengkulu.com

Last Updated ( Friday, 27 February 2015 14:40 )  

Banner


Myanmar, Desember 13-15, 2013
Download PDF
WKF Approved Homolagated Items