You are here: Home Article

PB FORKI

Article

POLA CEDERA OLAHRAGA DALAM OLAHRAGA BELADIRI

E-mail Print PDF

POLA CEDERA OLAHRAGA DALAM OLAHRAGA BELADIRI

(Survey pada atlet beladiri mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar)

WOUNDED PATTERN SPORT IN MARTHIAL ART SPORT

(Survey at athlet self-defence student FIK State University of Makassar)

 

Imam Suyudi

 Abstrak

Penelitian ini bertujuan, sebagai berikut: (1). Untuk mengetahui jenis cedera yang sering dialami oleh atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar. (2). Untuk mengetahui penyebab terjadinya cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar. (3). Untuk mengetahui usaha yang dilakukan pelatih saat atlet mengalami cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar. (4). Untuk mengetahui usaha yang dilakukan atlet setelah mengalami cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar.

Populasi pada penelitian ini adalah seluruh atlet beladiri pada Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar. sampel yang digunakan adalah atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar 30 orang yang diambil dengan teknik  tertentu, yakni memilih mahasiswa yang memiliki latar belakang prestasi olahraga beladiri. Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif yang berbentuk analisis dan presentase dengan melalui survey. Dalam penelitian ini penulis menggunakan rancangan analisis deskriptif dengan cara mempersentasekan jawaban pada setiap pertanyaan.

Hasil penelitian ini adalah: (1). Jenis cedera yang sering dialami oleh atlet beladiri mahasiswa FIK UNM masih tergolongan jenis cedera golongan atau tingkat pertama dan kedua yaitu ringan dan sedang. (2). Penyebab terjadinya cedera pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM adalah akibat dari kurangnya pemanasan dan istirahat. (3). Usaha yang dilakukan pelatih saat atlet mengalami cedera pada olahraga beladiri mahasiswa FIK UNM adalah rata-rata melakukan pengobatan sendiri dan menenangkan hati atletnya. (4). Usaha yang dilakukan atlet setelah mengalami cedera pada olahraga beladiri mahasiswa FIK UNM adalah mengobati sendiri.

Abstract

This Research bent on, as follows: (1). To know wounded type that often experienced by athlet self-defence student FIK State University Makassar. (2). To know cause the happening of injures at athlet self-defence student FIK State University Makassar. (3). To know effort that conducted moment coach atlet experiences of injure at athlet self-defence student FIK State University Makassar. (4). To know effort that conducted atlet after experience of injure at athlet self-defence student FIK State University Makassar.

Population at research this is the all athlet self-defence at student FIK State University Makassar. sampel that used [by] is athlet self-defence student FIK State University Makassar 30 one whos are taken with certain technique, namely select student that have background of sport achievement self-defence. Research Type this is the descriptive research type that in form of analysis and presentase through survey. In this research writer uses descriptive analysis design by presentation answer in each question.

Research Result this is the: (1). Wounded Type that often experienced by athlet self-defence student FIK UNM still wounded type group or first degree and second that is light and. (2). Cause the happening of injures at athlet self-defence student FIK UNM as a result of lack of warm-up and rest. (3). Effort that conducted moment coach athlet experiences of injure at sport self-defence student FIK UNM is average conducts medication by it self and set a mind at rest athlet. (4). Effort that conducted athlet after experience of injure at sport self-defence student FIK UNM is cures by it self.

PENDAHULUAN

Olahraga sebagai salah satu model karya cipta manusia yang merupakan suatu bentuk aktivitas fisik dengan berbagai dimensi yang kompleks. Keterkaitan antara kegiatan berolahraga dengan keberadaan manusia adalah suatu hal yang tidak dipisahkan. Berawal dari gerak dan bergerak manusia selanjutnya dikembangkan menjadi perilaku yang bermakna dan memiliki tujuan tertentu. adapun bentuknya jika dihubungkan dengan perilaku manusia, maka tujuannya akan menjadi luas dan dalam. Hal ini karena manusia memiliki berbagai potensi dan kelebihan dibanding dengan mahluk lain.

Oleh sebab itu olahraga perlu semakin ditingkatkan dan dimasyarakatkan sebagai salah satu cara untuk memasyarakatkan olahraga dan mengolah-ragakan masyarakat. Untuk itulah perlu ditingkatkan penyediaan sarana dan prasarana untuk meningkatkan kegiatan berolahraga, termasuk para pendidik, pelatih dan pembina.

Kenyataan menunjukkan bahwa dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi saat sekarang ini, telah mempercepat terjadinya perubahan dalam kehidupan masyarakat pada umumnya dan khususnya di bidang olahraga. Perubahan dan perkembangan dalam bidang olahraga tersebut, terjadi persaingan untuk meningkatkan prestasi di bidang olahraga melalui berbagai pendekatan. Salah satu pendekatan yang efektif dan dapat dipertanggung jawabkan adalah melalui penelitian.

Bagi atlet yang aktif melakukan olahraga tertentu (misalnya atlet pro), dituntut untuk memiliki sekelompok otot yang lebih kuat daripada bagian otot-otot yang lainnya. Respon tubuh terhadap adanya permintaan ini adalah dengan melalui sekelompok otot tertentu untuk berkontraksi dengan lebih keras. Hal ini meruakan perubahan dari penyesuaian tubuh yang sangat positif tentunya, karena perubahan ini memungkinkan terjadinya perbaikan selama melakukan latihan. Disamping itu, ada segi negatifnya juga. Setiap jenis olahraga menekankan adanya kontraksi (kerja otot) hanya pada sekelompok otot tertentu, sehingga hal ini dapat menyebabkan kontraksi otot hanya pada bagian otot tersebut saja menjadi lebih kuat, sedangkan otot-otot yang lainnya relatif lebih lemah.

Kelompok otot yang ada pada tubuh biasanya berkontraksi secara berpasangan. Misalnya, otot biceps pada lengan akan berkontraksi menekuk (fleksi) pada siku, sedangkan otot triceps menegangkan (meluruskan) siku.   Otot yang berkontraksi secara berpasangan (berlawanan) seperti tersebut dinamakan otot-otot antagonis. Banyak sekali pasangan otot seperti ini pada tubuh. Oleh karena itu, senantiasa menjaga keseimbangan di antara otot-otot tersebut agar unit-unit otot dapat berfungsi secara efesien.

Apabila program latihan yang dilakukan lebih menekankan hanya pada salah satu dari sekelompok otot yang saling berpasangan tersebut, maka akan menimbulkan cedera. Cedera ini disebabkan karena salah satu pasangan otot menjadi lebih kuat atau lebih kencang daripada otot-otot pasangannya. Cedera otot dapat juga terjadi pada otot yang lebih kuat maupun otot yang lebih lemah.

Salah satu cabang olahraga yang populer saat ini di kalanganmasyarakat adalah berdirinya beberapa perguruan beladiri. Karate adalah termasuk cabang olahraga full body contact yang harus bersentuhan langsung dengan lawannya di saat melakukan komite. Sehingga dengan sendirinya kemungkinan akan terjadinya cedera, disisi lain beladiri merupakan olahraga yang memiliki resiko tinggi untuk mendapatkan cedera. Cedera yang dialami oleh beladiri berawal dari proses latihan, dimana seorang atlet beladiri disamping mengharapkan untuk menjadi atlet yang berprestasi tentunya perlu melalui berbagai tahap untuk memperoleh hasil yang maksimal.

Untuk mencegah terjadinya cedera tersebut diperlukan satu program latihan peregangan pada otot-otot yang kencang, sedangkan pada otot-otot yang tidak memperoleh stimulasi yang cukup selama melakukan aktifitas diatasi dengan latihan penguatan, pada contoh kasus kaki bagian bawah tersebut, otot-otot betis memerlukan latihan peregangan sedangkan otot-otot kaki depan memerlukan latihan penguatan.

Ada sebagian orang menganggap bahwa peregangan tidak memberikan manfaat bahkan dapat menimbulkan cedera. Namun hampir semua pakar bidang olahraga sangat menekankan perlunya melakukan program latihan peregangan. Apabila ternyata peregangan yang dilakukan menimbulkan terjadinya cedera, mungkin hal ini disebabkan karena mereka melakukannya terlalu agresif atau mungkin menggunakn teknik peregangan secara tidak tepat.

Dengan demikian, berdasarkan penguraian dan penjelasan tentang persoalan cedera yang ada di atas, maka perlu adanya penelitian untuk membuktikan hal tersebut. Oleh karena itu peneliti mengangkat sebuah judul: “Pola cedera olahraga dalam cabang olahraga beladiri (Survey pada atlet beladiri mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar)”.

Berdasarkan penguraian dari latar belakang, dengan masalah yang telah dijelasakan, maka perlu adanya batasan masalah yang dapat dirumuskan. Dengan demikian masalah tersebut, dirumuskan sebagai berikut: (1). Apakah jenis cedera yang sering dialami oleh atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar, (2). Apakah penyebab terjadinya cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar, (3). Apakah usaha yang dilakukan pelatih saat atlet mengalami cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar, dan (4). Apakah usaha yang dilakukan setelah mengalami cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar.

TINJAUAN PUSTAKA

Dalam mengangkat dan mengungkapkan suatu permaslahan, perlu adanya teori-teori yang mendukung sebagai dasar untuk melakukan suatu penelitian. Teori-teori itu berfungsi sebagai bahan acuan dalam pelaksanaan penelitian. Teori-teori yang dikemukakan diharapkan dapat mengungkapkan kerangka pikir.

1.   Pengertian dan Pandangan Umum tentang Cedara

Pertimbangan pertama dalam pencegahan cedera adalah menerima bahwa pada kenyataannya memang tidak dapat menghindarkan diri dari terjadinya cedera tersebut. Tubuh manusia merupakan campuran dari struktur lembut yang menakjubkan dan mampu menimbulkan ketegangan yang hebat sekali. Bagaimanapun juga semua itu ada batasnya. Ketika sedng mengalami cedera, pertama-tama mesti merasakan sakit yang diderita. Kemudian menghendaki untuk memulai bekerja atau melakukan aktivitas olahraga.

Dengan adanya frekuensi dan beraneka ragam cedera yang dapat menimpah atlet, terdapat suatu dilema yang sering terjadi, yaitu apakah cedera tersebut harus diatasi dengan mendapatkan pertolongan medis.

Pandangan tentang cedera olahraga didefinisikan oleh Suharto (2000:175) sebagai berikut: “Cedera adalah hasil suatu tenaga berlebihan yang dilimpahkan pada tubuh dan tubuh tidak dapat menahan atau menyesuaikan dirinya”. Latihan olahraga apapun tidak terlepas dari kemungkinan mendapatkan cedera.

Cedera dapat dibedakan berdasarkan berat ringannya dan berdasarkan waktu terjadinya. Suharto (2000:175) membagi hal tersebut, yang terdiri atas:

1.   Berdasarkan berat ringannya, cidera dapat dibagi atas:

a.   Cedera ringan

    Biasanya tidak ada kerusakan yang berarti pada jaringan tubuh,misalnya hanya nyeri di otot atau kram otot. Cedera ini tidak perlu penanganan khusus, biasanya dapat sembuh sendiri setelah istirahat.

b.   Cedera berat

    Terjadinya cedera serius pada jaringan tubuh sehingga perlu penanganan khusus, misalnya robeknya otot, tendo, ligamen atau patah tulang.

2.   Berdasarkan waktu terjadinya, cedera dapat dibagi atas:

a.   Cedera akut

    Cedera akut adalah cedera yang baru saja terjadi yang diikuti tanda-tanda lokal, seperti nyeri, panas, bengkak dan terganggunya fungsi tubuh yangcedera tersebut.

b.   Cedera kronik

    Yaitu cedera yang dapat dimulai oleh suatu episode akut yang jika tidak ditangani dengan benar akan tetap menimbulkan keluhan berulang.

Sedangkan Hartono Satmoko (1993:137) diungkapkan bahwa untuk cedera olahraga dapat diklasifikasikan atas: (1) Cedera ringan atau tingkat pertama, (2) Cedera sedang atau tingkat kedua, dan (3) Cedera berat atau tingkat ketiga.

Untuk lebih jelasnya ketiga cedera yang diklasifikasikan akan diuraikan sebagai berikut:

(1)   Cedera ringan atau tingkat pertama

Cedera yang sangat ringan, dengan robekan yang hanya dapat dilihat dengan mikroskop dengan keluhan minimal dan hanya sedikit saja atau tidak mengganggu performance atlet yang bersangkutan,misalnya lecet, memar atau sprain yang ringan.

(2)   Cedera sedang atau tingkat kedua

Cedera dengan kerusakan jaringan yang nyata,nyeri, bengkak, merah atau panas, dengan gangguan fungsi yang nyata dan berpengaruh pada performance dari atlet yang bersangkutan, misalnya lebam, otot robek atau strain otot, ligamen robek atau sprain.

(3)   Cedera berat atau tingkat ketiga

Cedera dimana terjadi robekan lengkap atau hampir lengkap dari otot, ligamen atau fraktur dari tulang, yang memerlukan istirahat total pengobatan intensif dan bahkan mungkin operasi.

2.   Faktor-faktor yang menyebabkan cedera

Cedera dapat disebabkan oleh dua jenis faktor. Yang pertama adalah faktor intrinsik dan yang kedua faktor ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah faktor yang unsur-unsurnya sduah ada dalam diri atlet tersebut. Hal ini meliputi kelemahan jaringan, infleksibilitas, atau kelebihan beban; kesalahan biomekanik; kurangnya pengkondisian. Juga meliputi ukuran tubuh keseluruhan, kemampuan kinerja, dan gaya bermain. Sedangkan faktor ekstrinsik meliputi perlengkapan yang salah, kekuatan-kekuatan yang dikendalikan dri luar seperti atlet-atlet lain atau permukaan bermain, dan pelatihan atau kurang latihan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel 1. berikut:

Tabel 1. Faktor-faktor yang menyebabkan cedera

Intrinsik   Ekstrinsik

-   Jaringan; kelemahan, infleksibilitas, kelebihan beban

-   Kesalahan biomekanik

-   Kurangnya penyesuaian

-   Ukuran tubuh

-   Kemampuan kinerja

-   Gaya bermain   -   Perlengkapan yang salah

-   Atlet lain

-   Permukaan bermain

-   Pelatihan

-   Cuaca

Suharto (2000:176) juga mengemukakan tentang faktor terjadinya cedera olahraga, sebagai berikut:

1.   Cedera akibat pengaruh dari luar (eksogen) misalnya:

a.   Tabrakan yang keras pada sepakbola, pukulan pada karate

b.   Benturan oleh alat-alat olahraga yang dipakai,misalnya raket, bola

c.   Pengaruh lingkungan, misalnya lapangan yang tidak rata atau becek

d.   Cara latihan yang salah,misalnya tidak melakukan pemanasan

2.   Cedera akibat pengaruh dari dalam (endogen) misalnya;

a.   Postur tubuh yang kurang baik, mislanya panjang tungkai tidak sama, skoliosis, lengkung kaki datar dan sebagainya.

b.   Gerakan-gerakan latihan yang salah, misalnya cara memukul

c.   Kelemahan otot atau kekuatan otot yangantagonis tidak seimbang

d.   Keadaan fisik danmental yang tidak fit

Jenis problema-problema medis karena olahraga, sebagaimana yang dikemukakan oleh G La Cava Cs (1996:137) membagi hal tersebut dengan urutan tidak menurut frekuensi dan berat ringannya jenis problema tersebut, sebagai berikut:

1.   Lecet, lepuh dan luka

2.   Memar danlebam

3.   Kram dan “stain” otot

4.   Sprain sendi, dislokasi dan fraktur

5.   Kelainan pada kepala, leher, tulang belakang dan pinggang

6.   Kelainan pada dada dan perut

7.   Cedera anggota badan atas

8.   Cedera anggota badan bawah

9.   Pingsan dan serangan tiba-tiba

10.   Stres oleh karena senagatan panas

11.   Infenksi, diare dan gangguan menstruasi

3.   Prinsip-Prinsip Fisioterapi Cedera Olahraga

Dalam setiap cabang kedokteran, pencegahan selalu jauh lebih baik daripada pengobatan, dan demikian juga dalam kedokteran olahraga. Hal penting lagi karena atlet yang berkompetisi seringkali harus berlatih dan berlomba dengan performance yang maksimum. Problema-problema medis ringan yang  mengurangi performance fisik seorang sebesar 5%, seringkali tidak terperhatikan oleh yang bukan atlet. Tetapi bagi seorang atlet yang mengikuti kompetisi perbedaan 5% ini seringkali berarti perbedaan antara menang dan kalah. Pada pencegahan cedera olahraga perlu diperhatikan faktor-faktor, sebagaimana yang dikemukakan oleh  Hartono Satmoko (1993:140) sebagai berikut:

1.   Fasilitas dan sarana pelindung

2.   Kebugaran fisik dan psikologis

3.   Latihan-latoihan yangprogresif dan perilaku olahraga

4.   Latihan-latihan pemanasan, pendingian dan peregangan

Untuk lebih jelasnya akan diuraikan tentang faktor-faktor tersebut agar lebih mudah dipahami.

Fasilitas diusahakan dalam suatu keadaan sekitar yang aman dengan memperhatikan keadaan yang ada seperti; (1) singkirkanlah batu, pecahan kaca, debu di lintasan atau tempat yang akan dipergunakan. Hal ini akan mengurangi jadinya luka lecet atau iris, (2) ratakan permukaan dan tutuplah lubang-lubang yang ada untuk mencegah kecelakaan, jatuh, dan sprain dari pergelangan kaki, dan (3) menyediakan ruang lebih yang cukup setelah garis finish atai sekitar lapangan pertandingan, misalnya dengan menyingkirkan penghalang-penghalang, penonton dankursi-kursi. Sedangkan untuk sarana pelindung perlu dipergunakan, seperti; (1) pelindung kepala, misalnya untuk tinju, bersepeda, (2) pelindung mata, misalnya kacamata dengan lensa plastik atau gelas yang tidak dapat hancur-pecah untuk squash, berenang. (3) pelindung bahu, siku, tubuh, kunci paha, paha, lutut dan garas, misalnya untuk hoki, sepakbola dan bolavoli, dan (4) sepatu, serta (5) pelindung kelamin.

Kebugaran fisik dan psikologis, para atlet yang kurang bugar bila berusaha untuk menyangi lawan-lawan yangf lebih bugar, lebih besar kemungkinan untuk mendapat cedera karena kontak atau stres yang berlebihan (misalnya strain dan sprain) dan problema-problema medis lain (misalnya kelelahan dan sengatan panas). Sedangkan latihan-latihan yang progresif, perlu ditekankan prinsip-prinsip pemberian beban lebih yang bertahap dan prinsip spesifisitas dari latihan.

Fisioterapi olahraga dapat didefiniskan sebagai penggunaan terapi manual (dengan tangan) dan unsur-unsur elektro-fisika seperti panas, dingin, elektro-terapi dan latihan fisik untuk menghasilkan suatu respons penyembuhan dan rehabilitasi pada cedera dan problema-problema medis lain yang berkaitan dengan olahraga. Tujuan dari fisioterapi olahraga dalam pengobatan cedera olahraga, sebagaimana yang dikemukakan oleh Hartono Satmoko (1993:137) sebagai berikut:

1.   Mengurangi rasa nyeri

2.   Mengurangi pembengkakan pasca-cedera

3.   Mengurangi spasme otot dan mengusahakan relaksasi

4.   Memperbaiki pengaliran darah lokal dan dengan demikian merangsang penyembuhan dengan cara menambah penyediaan dari oksigen dan bahan gizi, dan mengangkut bahan sisa

5.   Mencegah terjadinya perlekatan dan fibrosis secara berlebihan

6.   Mempertahankan atau meningkatkan lingkup gerak sendi

7.   Menguatkan otot dan jaringan penyangga yang mengalami cedera maupun yang tidak.

 Gejala-gejala terjadinya cedera olahraga dapat berupa rasa nyeri, bengkak, memar dan tidak dapat berfungsinya organ tubuh yang cedera. Sangatlah penting mengenal gejala-gejala terjadinya cedera olahraga agar sedapat mungkin dan secepat mungkin cedera dapat dihindari. Oleh karena itu fisioterapi yang diberikan secara teratur dan bijaksana membantu menghasilkan suatu penyembuhan fungsional yang lebih baik. Kecenderungan untuk mendapat kembali cedera yang sama juga dikurangi.

4.   Perawatan Cedera

Untuk menangani cedera olahraga tergantung dari jenis cedera yang dialami. Yang pertama harus diperhatikan apakah cedera tersebut mengeluarkan darah atau tidak. Cedera dalam latihan olahraga, yang paling sering dijumpai adalah cedera terkena benturan, kejang otot dan keseleo. Penanganan pertama bagi cedera tersebut, yaitu dengan menerapkan RICE. Cara menerapkan metode RICE adalah:

a.   R : Rest (diitirahatkan)

Segera menghentikan aktifitas bila terjadi cedera. Bila aktifitas tetap dianjurkan dapat memperberat cedera. Istirahat total hanya selama 24 jam pertama (tergantung berat cedera) kemudian dapat dimulai dengan mobilisasi secara bertahap.

b.   I : Ice (didinginkan dengan es)

Mendinginkan lokasi cedera dengan mengompres dengan es selama 10 -  15 menit tiap kali, dapat diulangi sampai beberapa kali dengan interval 30 – 45 menit

c.   C : Compression (balut tekan, kompres0 dengan elatis perban

Tujuannya adalah untuk mengurangi pembengkakan dan mengurangi pergerakan.

d.   E : Elevation (ditinggikan)

Mengangkat bagian yang cedera lebih tinggi dari letak jantung. Tujuannya adalah untuk mengurnagi pembengkakan dan mengurangi pendarahan.

5.   Cabang olahraga beladiri

Prinsip semua teknik dalam olahraga beladiri adalah maksimumkan konsentrasi pada kekuatan seluruh tubuh dengan tujuan menangkis dan menyerang. Arah pukulan adalah tempat dari konsentrasi dari kekuatan ini. secara teoritis, semua permukaan keras pada tubuh dapat dipertimbangkan sebagai arah pukulan, tetapi hanya bagian-bagian dan posisi yang dimana kekuatan tubuh dapat dikonsentrasikan dengan mudah. Arah pukulan adalah senjata utama seorang karate-ka. Tidak seperti senjata lain, tidak dapat dibeli langsung, tetapi harus ditempa disebuah landasan pelatihan dan disiplin seseorang.

Pengertian Karate-Do menurut bahasa Jepang yaitu: Kara = kosong, te = tangan, Do = jiwa, jika dirangkaikan pengertian dari kata tersebut maka bermakna sebagai seni beladiri tangan kosong sedangkan pengertian karate-Do menurut majelis sabuk hitam (MSH) Lemkari Sulawesi Selatan sebagai berikut:

Karate-Do adalah seni keperkasaan yang tujuan akhirnya bukan menentukan sikap menang dansiapa kalah melainkan mencapai perpaduan antara ucapan dan usaha menuju kesempurnaan karakter, melalui tahapan yang dimulai dari pengalaman latihan yang paling besar.

Dengan demikian dari segi arti memberikan gambaran bahwa Karate-Do mengandung pengertian yang tinggi. Oleh karena merupakan suatu upaya untuk memadukan antara kemampuan jiwa dan fisik.

Dari masalah yang telah dirumuskan, maka setiap penelitian yang dilaksanakan tentu memiliki tujuan. Adapun tujuan penelitian diadakan adalah, sebagai berikut: (1). Untuk mengetahui jenis cedera yang sering dialami oleh atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar. (2). Untuk mengetahui penyebab terjadinya cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar. (3). Untuk mengetahui usaha yang dilakukan pelatih saat atlet mengalami cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar. (4). Untuk mengetahui usaha yang dilakukan atlet setelah mengalami cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar.

Sebuah penelitian dapat dikatakan memiliki arti penting bilamana manfaat yang postif terhadap perkembangan olahraga tersebut. Dengan demikian manfaat penelitian ini adalah, sebagai berikut: (1). Sebagai bahan informasi dalam mencegah dan mengantisipasi cedera pada olahraga beladiri, sehingga tidak terjadi kesalahan-kesalahan pada pengobatannya. (2). Bagi atlet dan pelatih agar dapat melakukan dan melaksanakan latihan yang sesungguhnya, agar tidak terjadi cedera yang fatal. (3). Sebagai bahan informasi  untuk penelitian selanjutnya yang meneliti tentang permasalahan yang sama.

Metodologi Penelitian

Jenis penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif yang berbentuk analisis dan presentase dengan melalui survey. Arikunto (1992:54), mengatakan bahwa: “Variabel merupakan obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian”. Sedangkan Sudjana (1988:48) mengatakan bahwa : “Variabel secara sederhana dapat diartikan ciri dari individu, obyek, gejala dan peristiwa yang dapat diukur secara kuantitatif atau kualitatif”. Variabel penelitian ini terdiri dari cedera olahraga sebagai variabel bebas dan variabel terikat adalah atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar.

Agar lebih terarah pelaksanaan latihan maupun pengumpulan data penelitian, maka perlu diberi batasan-batasan atau definisi operasional tiap variabel yang terlibat. (1). Jenis cedera; Jenis cedera yang dimaksud adalah sifat-sifat atau keadaan cedera yang dialami oleh atlet saat latihan maupun pertandingan. (2). Faktor penyebab; Faktor penyebab yang dimaksud adalah sesuatu hal atau keadaan peristiwa yang ikut menyebabkan atau mempengaruhi terjadinya cedera yang dialami atlet saat latihan maupun pertandingan. (3). Usaha pelatih; Usaha pelatih yang dimaksud adalah kemampuan pelatih dalam menanggulangi cedera yang dialami atlet, baik saat dan setelah melakukan latihan maupun pertandingan. (4). Usaha atlet; Usaha atlet yang dimaksud adalah kemampuan atlet dalam menanggulangi cedera yang dialami, baik saat dan setelah melakukan latihan maupun pertandingan.

Dalam suatu penelitian, biasanya diperlukan suatu desain penelitian. Hal ini penting, karena merupakan landasan atau kerangka dasar yang dijadikan pijakan sekaligus acuan untuk melaksanakan penelitian yang sesungguhnya. Model / rancangan penelitian ini dapat di gambarkan pada Tabel berikut :

Tabel 1. Model / rancangan Penelitian

Pola Cedera Olahraga   Sasaran

1.   Jenis cedera

2.   Faktor penyebab

3.   Usaha pelatih

4.   Usaha atlet 

Atlet beladiri

Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar

Dari Tabel 1 tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian ini arahnya adalah untuk mengungkapkan gambaran tentang jenis cedera, faktor penyebab, usaha pelatih dan atlet dalam cedera pada atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar.

Setiap penelitian tentunya selalu menggunakan obyek untuk diteliti atau diistilahkan dengan populasi. Arikunto (1993:102) mendefinsikan populasi sebagai berikut : “Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian”. Berarti populasi adalah keseluruhan dari individu yang dijadikan obyek penelitian. Populasi suatu penelitian harus memiliki karakteristik yang sama atau hampir sama. Olehnya itu yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh atlet beladiri pada Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar.

Penelitian ilmiah tidak selamanya mutlak harus meneliti jumlah keseluruhan obyek yang ada (populasi), melainkan dapat pula mengambil sebagian dari populasi yang ada. Dengan kata lain bahwa yang dimaksudkan yaitu sampel. Arikunto (1987:104) menjelaskan bahwa : “Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti”. Ali (1985:54) memberikan pengertian bahwa : “Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan obyek yang diteliti yang dianggap mewakili terhadap seluruh populasi dan diambil dengan menggunakan teknik tertentu”.

Sampel adalah sebagian dari populasi yang menjadi obyek penelitian. Alasan dari penggunaan sampel adalah keterbatasan waktu, tenaga dan banyaknya populasi. Dengan demikian sampel yang digunakan adalah atlet beladiri Mahasiswa FIK Universitas Negeri Makassar 30 orang.

Adapun teknik pengumpulan data yang akan dilakukan dalam penelitian ini adalah angket. Angket adalah teknik pengumpulan data dengan menggunakan daftar pertanyaan untuk diisi sendiri oleh responden. Untuk memperoleh daya yang diperlukan dalam penelitian ini digunakan teknik, yaitu seperangkat instrumen yang berupa kuesioner dengan harapan bahwa responde diminta untuk memberi jawaban.

Dalam proses penggunaan angket ditempuh langkah-langkah sebagai berikut: (1). Mempersiapkan angket. Angket yang dipersiapkan terdiri atas beberapa bagian, yaitu bagian pertama pengantar, bagian kedua petunjuk-petunjuk tentang pengisian angket, bagian ketiga memuat sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh data yang diperlukan dan bagian yang keempat adalah identitas responden. (2). Mengedarkan angket. Dalam mengedarkan angket, peneliti terlebih dahulu meminta izin kepada pengda olahraga beladiri, kemudian menghubungi pengurus cabang beladiri Makassar. (3). Memeriksa jawaban angket. Setelah angket dikumpulkan, selanjutnya peneliti memeriksa angket yang telah diisi oleh responden.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan rancangan analisis deskriptif dengan cara mempersentasekan jawaban pada setiap pertanyaan. Adapun rumus persentil yang digunakan sebagai berikut :

        n

%      =   x     100 %   

    N

Dimana :

%     =     Persentase

n     =     Frekuensi yang dicapai untuk setiap pilihan

N        =     Jumlah sampel

    (Ali, 1985:184)

Pembahasan Hasil Penelitian

Dalam bab ini dikemukakan penyajian hasil analisis data, selanjutnya hasil analisis data dibahas guna dapat memberikan kesimpulan penelitian yang tepat dan akurat.

1.   Bagian tubuh atlet yang sering cedera pada saat latihan

Dari hasil penelitian tentang bagian tubuh atlet beladiri yang sering cedera pada saat latihan, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang bagian tubuh yang sering cedera saat latihan pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, pada bagian kepala 3 responden atau 10%, bagian tangan 4 responden atau 13,33%, bagian badan 8 responden atau 26,67% dan pada bagian kaki 15 responden atau 50%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atlet beladiri yang sering bagian tubuhnya cedera pada saat latihan adalah bagian kaki. Berarti dari jumlah responden yang ada ternyata rata-rata cedera yang dialami oleh atlet beladiri mahasiswa FIK UNM adalah bagian kaki.

2.   Bagian tubuh yang sering cedera pada saat pertandingan

Dari hasil penelitian tentang bagian tubuh atlet beladiri yang sering cedera pada saat pertandingan, maka gambaran lengkap hasil data, nampak bahwa hasil data tentang bagian tubuh yang sering cedera saat pertandingan pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, pada bagian kepala 6 responden atau 20%, bagian tangan 8 responden atau 26,67%, bagian badan 6 responden atau 20% dan pada bagian kaki 7 responden atau 23,33%, serta ada 3  atau 10% atlet beladiri yang tidak pernah cedera selama ikut pertandingan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atlet beladiri yang sering bagian tubuhnya cedera pada saat pertandingan adalah bagian kepala, tangan, badan, dan kaki.

3.   Atlet beladiri yang pernah cedera di luar latihan dan pertandingan

Dari hasil penelitian tentang bagian tubuh atlet beladiri yang sering cedera pada di luar latihan dan pertandingan, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang bagian tubuh yang sering cedera di luar latihan dan pertandingan pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, pada bagian kepala 1 responden atau 3,33%, bagian tangan 5 responden atau 16,67%, bagian badan 2 responden atau 6,67% dan pada bagian kaki 12 responden atau 40%, serta 10 responden atau 33,33% atlet beladiri yang tidak pernah cedera di luar latihan dan pertandingan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masih ada atlet beladiri yang sering bagian tubuhnya cedera pada di luar latihan dan pertandingan.

4.   Atlet beladiri yang pernah mengalami patah tulang

Dari hasil penelitian tentang atlet beladiri yang pernah mengalami patah tulang, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang atl;et yang pernah patah tulang pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, yang pernah mengalami “Ya” sebanyak 2 responden atau 6,67%, dan yang tidak pernah mengalami sebanyak 28 responden atau 93,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atlet beladiri yang dijadikan sampel penelitian ada yang pernah patah tulang antara lain; pada bagian jari-jari dan kaki.

5.   Atlet yang pernah mengalami sendi lepas (dislokasi)

Dari hasil penelitian tentang atlet beladiri yang pernah mengalami sendi lepas (dislokasi), maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang atlet yang pernah patah tulang pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, yang pernah mengalami “Ya” sebanyak 1 responden atau 3,33%, dan yang tidak pernah mengalami sebanyak 29 responden atau 96,67%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atlet beladiri yang dijadikan sampel penelitian ada yang pernah dislokasi antara lain; pada bagian pergelengan tangan.

6.   Atlet yang pernah mengalami keseleo (salah urat)

Dari hasil penelitian tentang atlet beladiri yang pernah mengalami patah tulang, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang atlet yang pernah patah tulang pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, yang pernah keseleo (salah urat) sebanyak 17 responden atau 56,67%, dan yang tidak pernah mengalami keseleo sebanyak 13 responden atau 43,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atlet beladiri yang dijadikan sampel penelitian rata-rata pernah mengalami keseleo (salah urat). Bagian yang sering terjadi keseleo (salah urat) antara lain; pada bagian jari-jari, lengan, lutut serta kaki. 

7.   Atlet yang pernah mengalami luka memar

Dari hasil penelitian tentang atlet beladiri yang pernah mengalami luka memar, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang atlet yang pernah mengalami luka memar pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, yang pernah mengalami luka memar sebanyak 28 responden atau 6,67%, dan yang tidak pernah mengalami luka memar sebanyak 2 responden atau 93,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atlet beladiri yang dijadikan sampel penelitian rata-rata pernah mengalami luka memar. Bagian yang sering mengalami luka memar antara lain; pada bagian muka, kepala, dada, pelipis, pipi, bibir, pundak, lengan, betis dan kaki.

8.   Perasaan atlet setelah mengalami cedera

Dari hasil penelitian tentang perasaan atlet setelah mengalami cedera, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang perasaan atlet setelah mengalami cedera pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, untuk sesak napas / susah bernapas sebanyak 2 responden atau 6,67%, sakit pada bekas cedera sebanyak 8 responden atau 26,67%, tidak kuat mengangkat beban berat sebanyak 1 responden atau 3,33%, trauma atau takut bertanding lagi sebanyak 2 responden atau 6,67%, dan takut latihan lagi tidak ada responden atau 0%, serta sebanyak 17 responden atau 56,67% menyatakan tidak ada perasaan apa-apa setelah mengalami cedera. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masih ada atlet beladiri yang memiliki perasaan setelah mengalami cedera atau akibat cedera.

9.   Kelainan yang dialami atlet beladiri sebelum mengikuti latihan atau pertandingan

Dari hasil penelitian tentang kelainan yang dialami atlet sebelum mengikuti latihan atau pertandingan, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang kelainan yang dialami atlet beladiri mahasiswa FIK UNM sebelum mengikuti latihan atau pertandingan dari 30 responden, untuk kelainan Asma sebanyak 1 responden atau 3,33%, batuk-batuk kering sebanyak 2 responden atau 6,67%, pusing-pusing sebanyak 2 responden atau 6,67%, tidak bergairah sebanyak 3 responden atau 10%, dan tidak ada kelainan sebanyak 22 responden atau 73.33%, serta  tidak ada responden atau 0% untuk kelainan bronchitis. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masih ada atlet beladiri yang memiliki kelainan jauh sebelum mengikuti latihan atau pertandingan pada cabang olahraga beladiri .

10.   Kelainan yang pernah dialami atlet setelah menderita cedera

Dari hasil penelitian tentang kelainan yang dialami atlet setelah menderita cedera, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang kelainan yang dialami atlet beladiri mahasiswa FIK UNM setelah menderita cedera dari 30 responden, untuk kelainan cepat lelah dalam latihan/pertandingan sebanyak 4 responden atau 13,33%, jantung berdebar-debar sebanyak 3 responden atau 10%, denyut nadi terlalu cepat sebanyak 4 responden atau 13,33%, denyut nadi lambat sebanyak 1 responden atau 3,33%, dan tidak ada kelainan sebanyak 18 responden atau 60%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masih ada kelainan yang dialami atlet beladiri mahasiswa FIK UNM setelah menderita cedera.

11.   Penyebab atlet sehingga pernah pingsan

Dari hasil penelitian tentang penyebab atlet sehingga pernah pingsan, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang penyebab atlet beladiri mahasiswa FIK UNM sehingga pernah pingsan dari 30 responden, untuk kecelakaan sebanyak 2 responden atau 6,67%, cedera olahraga sebanyak 1 responden atau 3,33%, terlalu lelah latihan sebanyak 3 responden atau 10%, akibat pertandingan sebanyak 1 responden atau 3,33%, kurang minum sebanyak 1 responden atau 3,33%, dan tidak pernah mengalami pingsan sebanyak 22 responden atau 73,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masih ada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM yang sering mengalami pingsan.

12.   Yang pernah dialami oleh atlet setelah latihan/pertandingan

Dari hasil penelitian tentang yang dialami atlet beladiri mahasiswa FIK UNM setelah latihan atau pertandingan, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang kelainan yang dialami atlet beladiri mahasiswa FIK UNM setelah latihan atau pertandingan dari 30 responden, untuk susah buang air kecil setelah latihan atau pertandingan sebanyak 3 responden atau 10%, susah buang air besar setelah latihan atau pertandingan sebanyak 2 responden atau 6,67%, warna urine keruh sebanyak 1 responden atau 3,33%, warna urine seperti teh sebanyak 2 responden atau 6,67%, warna urine sangat kuning sebanyak 3 responden atau 10%, dan tidak ada yang dialami atlet sebanyak 19 responden atau 63,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa masih ada kelainan yang dialami atlet beladiri mahasiswa FIK UNM setelah latihan atau pertandingan.

13.   Perasaan atlet saat terjadi cedera

Dari hasil penelitian tentang perasaan atlet saat terjadi cedera, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang perasaan atlet beladiri mahasiswa FIK UNM saat terjadi cedera dari 30 responden, perasaan gelisah sebanyak 6 responden atau 20%, tegang sebanyak 4 responden atau 13,33%, tidak percaya diri sebanyak 1 responden atau 3,33%, frustrasi sebanyak 2 responden atau 6,67%, pusing-pusing sebanyak 3 responden atau 10%, tidak sadar sebanyak 0 responden atau 0%, tenang-tenang saja banyak 11 responden atau 36,67%, dan responden yang tidak mengalami perasaan sebanyak 3 responden atau 10%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada saat terjadi cedera atlet beladiri mahasiswa FIK UNM rata-rata masih mengalami perasaan kelainan.

14.   Usaha pelatih saat terjadi atlet cedera

Dari hasil penelitian tentang usaha pelatih saat terjadi atlet cederai, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang usaha pelatih saat terjadi atlet cedera dari 30 responden, menenangkan hati atlet sebanyak 4 responden atau 13.33%, membawa atlet ke dokter pertandingan sebanyak 3 responden atau 10%, mengobati atlet dengan kemampuan sendiri sebanyak 5 responden atau 16,67%, membawa atlet ke dukun sebanyak 1 responden atau 3,33%, memarahi atlet sebanyak 1 responden atau 3,33%, dan tidak peduli dengan cedera yang dialami oleh atlet sebanyak 16 responden atau 53,33%, serta tidak ada pelatih yang menyalahkan atlet saat terjadi cedera. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada saat terjadi cedera atlet beladiri mahasiswa FIK UNM pelatih memiliki usaha untuk mengantisipasi cedera tersebut.

15.   Pelatih selalu memberikan latihan khusus untuk meningkatkan kondisi fisik pada saat latihan

Dari hasil penelitian tentang pelatih selalu memberikan latihan khusus untuk meningkatkan kondisi fisik pada saat latihan, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang pelatih selalu memberikan latihan khusus untuk meningkatkan kondisi fisik pada saat latihan atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, yang pernah sebanyak 20 responden atau 66,67%, kadang-kadang sebanyak 7 responden atau 23,33%, dan yang tidak pernah sebanyak 3 responden atau 10%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelatih beladiri mahasiswa FIK UNM rata-rata selalu memberikan latihan khusus untuk meningkatkan kondisi fisik pada saat latihan.

16.   Jumlah latihan kondisi fisik dalam seminggu

Dari hasil penelitian tentang jumlah latihan kondisi fisik dalam seminggu yang diberikan pelatih, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang jumlahlatihan kondisi fisik dalam seminggu yang diberikan pelatih pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, jumlah latihan 1 kali seminggu sebanyak 4 responden atau 13,33%, 2 kali seminggu sebanyak 7 responden atau 23,33%, 3 kali seminggu sebanyak 14 responden atau 46,67%, dan lebih dari 3 kali seminggu sebanyak 5 responden atau 16,67%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelatih beladiri mahasiswa FIK UNM rata-rata selalu memberikan latihan khusus untuk meningkatkan kondisi fisik pada saat latihan sebanyak 3 kali seminggu.

17.   Jumlah latihan teknik dalam seminggu

Dari hasil penelitian tentang jumlah latihan teknik dalam seminggu yang diberikan pelatih, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang jumlah latihan teknik dalam seminggu yang diberikan pelatih pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, jumlah latihan 1 kali seminggu sebanyak 2 responden atau 6,67%, untuk 2 kali seminggu sebanyak 3 responden atau 10%, untuk 3 kali seminggu sebanyak 17 responden atau 56,67%, dan lebih dari 3 kali seminggu sebanyak 8 responden atau 26,67%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelatih beladiri mahasiswa FIK UNM rata-rata selalu memberikan latihan teknik sebanyak 3 kali seminggu.

18.   Atlet yang berlatih hanya menjelang pertandingan

Dari hasil penelitian tentang atlet yang berlatih hanya menjelang pertandingan, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang atlet yang berlatih hanya menjelang pertandingan dari 30 responden, klasifikasi “Ya” sebanyak 6 responden atau 10%, kadang-kadang sebanyak 3 responden atau 10%, dan yang tidak pernah sebanyak 21 responden atau 70%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atlet beladiri mahasiswa FIK UNM rata-rata selalu latihan walaupun tidak ada pertandingan.

19.   Atlet yang mendapat latihan kekuatan

Dari hasil penelitian tentang atlet yang mendapat latihan kekuatan, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang atlet  beladiri yang mendapat latihan kekuatan  dari 30 responden, yang pernah sebanyak 19 responden atau 63,33%, kadang-kadang sebanyak 1 responden atau 3,33%, dan yang tidak pernah sebanyak 10 responden atau 33,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa atlet beladiri mahasiswa FIK UNM rata-rata selalu mendapat latihan kekuatan pada saat proses latihan. Latihan kekuatan tersebut, seperti, kekuatan otot perut, lengan, dan tungkai.

20.   Latihan yang pernah diberikan oleh pelatih

Dari hasil penelitian tentang jumlah latihan yang pernah diberikan pelatih, maka gambaran lengkap hasil data tersebut, nampak bahwa hasil data tentang latihan yang pernah diberikan oleh pelatih beladiri mahasiswa FIK UNM dari 30 responden, untuk mengangkat beban yang berat sebanyak 3 responden atau 10%, untuk lari jarak jauh sebanyak 4 responden atau 13,33%, untuk latihan peregangan sebanyak 10 responden atau 33,33%, untuk kecepatan sebanyak 3 responden atau 10%, dan teknik dlam pertandingan sebanyak 10 responden atau 33,33%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pelatih beladiri mahasiswa FIK UNM rata-rata selalu memberikan latihan-latihan yang bervariasi.

21.   Usaha atlet setelah terjadi cedera

Dari hasil penelitian tentang usaha atlet setelah terjadi cedera, maka gambaran lengkap hasil data, nampak bahwa hasil data tentang usaha atlet setelah terjadi cedera dari 30 responden, mengobati sendiri sebanyak 8 responden atau 26,67%, pergi ke dukun sebanyak 4 responden atau 13,33%, pergi ke dokter sebanyak 6 responden atau 20%, dan tidak mau berbuat sebanyak 12 responden atau 40%. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pada saat terjadi cedera atlet beladiri mahasiswa FIK UNM memiliki usaha untuk mengantisipasi cedera tersebut dengan berbagai cara walaupun masih adanya atlet yang tidak mau berobat atau tidak memperdulikan cedera yang dialami.

Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis data yang yang telah diuraiakan sebelumnya, maka perlu adanya pembahasan lebih lanjut guna untuk mengetahui hasil dari penelitian. Hasil penelitian yang dibahas merupakan jawaban dari rumusan masalah yang diturunkan pada bab sebelumnya.

Jenis cedera yang sering dialami oleh atlet beladiri mahasiswa FIK UNM. Berdasarkan dari hasil pengolahan data ternyata atlet beladiri yang ada ,  jenis cedera yang dialami para atlet beladiri yang ada  masih tergolongan ringan dan sedang. Sebab cedera yang dialami hanya sekitar memar atau luka robek yang tidak membutuhkan istirahat yang begitu lama atau operasi. Cedera yang ada di bagian kepala misalnya, hanya lebam pada pipi, alis, muka, dan robek pada bagian alis dan bibir. Untuk bagian badan rata-rata dibagian dada, bahu ddan perut. Demikian juga pada bagian tangan dan kaki. Akan tetapi jenis cedera yang diderita pada saat latihan lebih dominan pada bagian kaki, sedangkan disaat bertanding tidak ada yang lebih menonjol.

Penyebab terjadinya cedera pada olahraga beladiri mahasiswa FIK UNM. Berdasarkan dari hasil pengolahan data ternyata atlet beladiri yang ada , penyebab terjadinya cedera adalah kurangnya istirahat, tidur disaat mau latihan, kurangnya pemanasan, dan beratnya latihan serta kurang minum. Akibat dari hal tersebut, terkadang atlet memiliki kelainan setelah mengalami cedera, seperti cepat lelah dalam latihan atau pertandingan, jantung berdebar-debar, denyut nadi terlalu cepat, denyut nadi terlalu lambat. Sehingga atlet disaat melakukan latihan atau pertandingan mengalami kelainan khususnya pada susah buang air kecil, susah buang air besar, warna urine keruh, merah (seperti teh), dan kuning. Dari hal tersebut mengakibatkan perasaan atlet setelah mengalami cedera adalah gelisah, tegang, tidak percaya diri, frustrasi, dan pusing-pusing. Akan tetapi tidak semua atlet beladiri yang ada  yang dijadikan sampel mengalami hal tersebut. Sebab atlet tersebut tahu dan mengerti apa yang dilakukan serta resiko disaat latihan maupun pertandingan pada cabang olahraga beladiri khususnya pada beladiri .

Usaha yang dilakukan pelatih saat atlet mengalami cedera pada olahraga beladiri mahasiswa FIK UNM. Berdasarkan dari hasil pengolahan data ternyata pelatih beladiri yang ada , memiliki kemampuan atau usaha dalam mengatasi atau mengantisipasi setiap cedera yang dialami oleh atlet. Usaha-usaha yang dilakukan pelatih disaat mendapat hal tersebut diantaranya; menenangkan hati atlet, membawa kedokter, mengobati dengan kemampuan sendiri, dan terkadang pelatih membawa ke dukun serta memarahi atlet yang mengalami cedera. Namun masih ada atlet yang mendapat perlakuan yang tidak sesuai dari atlet-atlet lain dalam pelayanan disaat mendapat cedera, sebab masih ada pelatih yang kurang memiliki pemahaman tentang akibat latihan yang diberikan atau tidak mempedulikan sama sekali apa yang dialami oleh atlet.

Usaha yang dilakukan atlet setelah mengalami cedera pada olahraga beladiri mahasiswa FIK UNM. Berdasarkan dari hasil pengolahan data ternyata atlet beladiri yang ada ,  memiliki kemampuan atau usaha dalam mengatasi atau mengantisipasi setiap cedera yang dialaminya sendiri. Usaha-usaha tersebut diantaranya adalah mengobati sendiri, pergi kedokter, dan pergi kedukung. Serta atlet yang bandel dan merasa mampu mengatasi sendiri tidak mau berobat sama sekali.

KESIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan dari hasil pengolahan data dengan pembahasan yang telah dikemukakan pada bab sebelumnya, maka hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: (1). Jenis cedera yang sering dialami oleh atlet beladiri mahasiswa FIK UNM masih tergolongan jenis cedera golongan atau tingkat pertama dan kedua yaitu ringan dan sedang. (2). Penyebab terjadinya cedera pada atlet beladiri mahasiswa FIK UNM adalah akibat dari kurangnya pemanasan dan istirahat. (3). Usaha yang dilakukan pelatih saat atlet mengalami cedera pada olahraga beladiri mahasiswa FIK UNM adalah rata-rata melakukan pengobatan sendiri dan menenangkan hati atletnya. (4). Usaha yang dilakukan atlet setelah mengalami cedera pada olahraga beladiri mahasiswa FIK UNM adalah mengobati sendiri.

Berdasarkan dari hasil penelitian yang telah disimpulkan di atas,maka dapat disarankan bahwa : (1). Bagi atlet agar supaya melakukan pemanasan dengan baik khususnya pada peregangan atau kelentukan, untuk menghindari terjadinya cedera. Disamping itu atlet agar tidak melakukan gerakan-gerakan yang belum otomatisasi atau dikuasai. (2). Bagi pelatih agar supaya memperhatikan program latihan yang diberikan serta mampu memperhatikan atlet yang mengalami cedera dan melayani minimal dapat mengantisipasi kemungkinan terjadinya cedera khususnya disaat melakukan komite. (3). Bagi pengembangan ilmu khususnya bidang olahraga beladiri , agar kiranya memperhatikan sistem pelatihan yang ada pada cabang olahraga tersebut. Agar supaya mampu memberikan hasil yang optimal dalam pencapaian prestasi yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA

Ali. 1985. Penelitian Kependidikan Prosedur dan Strategi. Bandung: Aksara.

Arikunto, Suharsimi. 1987. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara

________________. 1993. Prosedur Penelitian; Suatau Pendekatan Praktek. Jakarta: Penerbit Rineka Cipta

Depdiknas. 2000. Pedoman dan Modul Pelatihan Kesehatan Olahraga Bagi Pelatih Olahragawan Pelajar. Jakarta: Depdiknas Pusat Pengembangan Kualitas Jasmani. 

Dwijowinoto, Kasiyo. 1993. Dasar-Dasar Ilmiah Kepelatihan. Semarang: IKIP Semarang Press

Garrison, Susan J. 2001. Dasar-Dasar Terapi & Rehabilitas Fisik. Jakarta: Penerbit Hipokrates

Harisenjaya, R.S. 1996. Pengetahuan Teknik Higiene Olahraga. Bandung: Refika Aditama

Harsono. 1988. Coaching dan aspek-aspek psikologi dalam coaching. Jakarta : Depdikbud Dirjen Dikti

Lutan, Rusli, dkk. 1991. Manusia dan Olahraga. Bandung: ITB dan FPOK IKIP M. Taylor, Paul dan K. Taylor, Diane. 2002. Mencegah dan Mengatasi Cedera Olahraga. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

Neil F. Gordon.  1997. Radang Sendi (Arthritis, Panduan Latihan Lengkap. Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada 

Perry, Paul. 1994. Bebas Cidera Karate. Jakarta: Ghalia Indonesia

Satmoko, Hartono. 1993. Ilmu Kedokteran Olahraga. Jakarta: Binarupa Aksara

Sumosadjuno, Sadoso. 1995. Sehat & Bugar, Petunjuk Praktis Berolahraga yang Benar. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama

Diposkan oleh imam suyudi
 

Penanganan Cedera pada Olahraga Seni Bela Diri

E-mail Print PDF

Seni bela diri merupakan suatu teknik bertarung yang menyerang dan bertahan yang mencakup memukul, menendang, menangkis, membanting dan keterampilan agresif lainnya. Banyak orang menganggap bahwa seni bela diri biasanya dekat dengan kekerasan dan kebrutalan. Seni bela diri dianggap sebagai ekspresi dari keberanian, kewiraan, dan pengorbanan diri. Filsafat beladiri sebenarnya menekankan bahwa orang sebaiknya lebih menghormati kedamian dan harmoni. Seni bela diri filsafat menekankan pada esensi manajemen diri, menghormati orang lain, dan perspektif optimis untuk mencoba yang terbaik dalam hidup.

Seni bela diri adalah bagian dari kebiasan dari para ahli beladiri dari Jepang yang menawarkan penekanan pada penguatan, tubuh jiwa dan pikiran. Ajaran-ajarannya menegaskan bahwa seorang seniman bela diri sejati harus mengembangkan tubuh, mental, dan emosional menjadi cukup kuat untuk menghindari pertempuran. Hal ini dapat ditemui pada berbagai bentuk seni bela diri termasuk Jujitsu, Karate, Kung-Fu, Muay Thai, Tae Kwon Do, dan Judo.

Seni bela diri mencakup latihan dengan vitalitas tinggi yang dapat meningkatkan energi, kecepatan, fleksibilitas, dan kesehatan jantung. Namun demikian, identik dengan kegiatan olahraga lain atau kegiatan fisik, terdapat kecelakaan yang dapat ditemui dalam pelatihan seni bela diri ataupun dalam kompetisi. Cukup mengejutkan bahwa resiko cedera dari seni bela diri lebih sedikit dibandingkan dengan olahraga kontak lainnya seperti rugby, sepak bola Amerika, bola basket dan hoki. Kebanyakan kecelakaan yang berkaitan dengan seni bela diri adalah sakit tungkai lengan, atau kaki serta nyeri punggung bawah yang biasanya merupakan cedera yang wajar.

Semua olahraga memiliki cedera, dimana pada saat cedera, kualitas dan performa atlet akan menurun. Ada dua jenis cedera dalam olahraga : cedera langsung (traumatic injury) maupun tidak langsung (overuse injury).  Traumatic  injury dapat dilihat dengan jelas penyebabnya. Misalnya jatuh, salah gerak, tertabrak dan lain-lain sehingga menyebabkan robekan/ putusnya jaringan lunak (soft tissue) seperti ligament, otot, tendon, hingga terjadinya fraktur (patah tulang). Pada kondisi seperti ini, diperlukan penanganan medis profesional seperti dokter atau fisioterapis.

Overuse injury yaitu cedera yang diakibatkan karena tekanan berulang-ulang biasanya diakibatkan karena pamakaian berlebih. Cedera ini berhubungan dengan beratnya beban latihan, istirahat yang kurang, perawatan cedera sebelumnya yang kurang tepat, serta persiapan dalam pertandingan (seperti warming up, stretching dan cooling down setelah pertandingan) yang kurang maksimal dan efektif.

Pada saat cedera tubuh meresponnya dengan tanda-tanda peradangan dari dalam tubuh seperti rubor (kemerahan), tumor (bengkak), kalor (panas), dolor (nyeri) serta functiolesa (penurunan fungsi). Respon tersebut bertujuan untuk memulihkan jaringan yang cedera.

Pembuluh darah di tempat yang mengalami cedera akan akan melebar (vasodilatasi) dengan maksud untuk mengirim lebih banyak nutrisi dan oksigen upaya mempercepat penyembuhan. Adanya pelebaran pembuluh darah ini menyebabkan tempat yang cedera menjadi lebih terlihat kemerahan (rubor), dan darah yang banyak ini akan merembes dari kapiler menuju ruang antar sel sehingga akan terlihat bengkak (tumor).

Karena banyaknya nutrisi dan oksigen sehingga metabolisme meningkat dengan sisa metabolisme berupa panas (kalor). Tumpukan sisa metabolisme dan zat kimia lainnya ini akan merangsang syaraf perasa nyeri di tempat cedera sehingga timbul nyeri (dolor). Semuanya akan mengakibatkan penurunan fungsi sendi (functiolesa).

Cedera yang paling umum terjadi antara lain :

  • Terkilir. Keseleo sering terjadi di pergelangan kaki, siku, dan daerah sendi lainnya. Banyak orang keseleo pada pergelangan kaki karena distribusi berat badan yang tidak benar pada saat menendang atau bergerak. 
  • Bengkak. Kerusakan pada otot atau tendon. Beberapa massa otot bisa merobek berhenti dari cepat yang terjadi saat kontak kuat dibuat dengan lawan atao objek. 
  • Lutut terasa nyeri. Cedera yang disebabkann oleh sikap lutut tertekuk khas seni bela diri (kuda-kuda) atau sering menggunakan tendangan yang cukup kuat dan dapat melukai sendi jika tidak dilakukan dengan benar. 
  • Cedera kepala. Cedera kepala dapat terjadi selama pelatihan karena akibat dari tendangan atau pukulan di daerah kepala. 
  • Dislokasi dan patah tulang. Yang sering terjadi adalah pada bagian  jari, tangan, persendian bahu dan kaki.

Penanganan yang tidak tepat akan memperburuk cedera dan memperlambat proses penyembuhan. Dari segi medis, penanganan cedera olahraga untuk soft tissue secara umum memiliki prinsip RICER (Rest, Ice, Compression, Elevation, dan Reverral) dan menghindari HARM (Heat, Alcohol, Running, Massage).

1.   Lakukan RICER

a.    Rest, istirahatkan bagian tubuh yang mengalami cedera agar cedera tidak semakin parah. Jika merasakan nyeri pada saat bergerak itu berarti tubuh mengirimkan sinyal untuk mengurangi gerkan di bagian tubuh yang cedera. Kurangi pembebanan tubuh di bagian yang cedera misalkan dengan menggunakan kruk. Istirahatkan sendiri minimal 48-72 jam. Untuk kondisi cedera ringan pada saat bertanding dan dapat melanjutkan permainan, harus dicek terlebih dahulu oleh tim medis dokter atau fisioterapis dan diberikan support seperti tapping/kinesiotape/decker.

b.   Ice, kompres dengan menggunakan es/dingin sesegera mungkin, kompres bias menggunakan es batu ditumbuk dimasukkan ke dalam plastik kemudian dibebat maupun menggunakan ice bag, atau kompres dengan handuk yang sudah direndam air dingin. Tujuannya adalah mengurangi nyeri dan bengkak pada fase inflamasi, supaya pembuluh darah yang melebar menjadi lebih menutup. Apilkasikan es dengan durasi 10-15 menit saja. Bila lebih dari 20-30 menit justru akan mengakibatkan kerusakan jaringan. Ulangi kompres setelah 30 menit. Pada 24-72 jam bisa sehari melakukan 6-7 kali kompres es.

c.   Compression, gunakan bebat menggunakan perban elastis, atau adhesive elastic bandage, kinesiotaping dan taping untuk mengurangi bengkak dan pendarahan. Dibebat jangan terlalu kencang. Lepas bebat pada saat akan tidur kecuali kinesiotaping dapat digunakan hingga dua hari.

d.   Elevation, angkat bagian yang cedera lebih tinggi dari jantung. Misalnya ketika terkena sprain ankle maka ganjal ankle pada saat duduk/ tidur dengan menggunakan bantal supaya mengurangi pembengkakan.

e.  Reverral, segera rujuk ke dokter/fisioterapis apabila mencurigai cedera termasuk parah dan mengganggu aktivitas. Cedera akan mendapatkan pemeriksaan dan diagnosa, treatment dan program fisioterapi.

2.   Jauhi HARM

a. Heat, menggunakan panas saat penanganan pertama cedera akan meningkatkan pembengkakan karena panas akan membuat pembuluh darah semakin melebar, seperti pemberian balsam, jahe, minyak kocok, saina, berendam di bathtub dan shower panas.

b. Alcohol, meminum alkohol atau merendam bagian yang cedera dengan alkoholakan meningkatkan pembengkakan serta memperlambat penyembuhan.

c.   Running, berlatih dalam 48-72 jam saat cedera akan memperburuk kondisi. Seseorang dinyatakan aman bermain kembali setelah dilakukan pemeriksaan dan diagnosa dari dokter/ fisioterapis.

d.   Massage (pijatan) pada saat cedera akan meninggalkan aliran darah sehingga akan membuat semakin bengkak, dan dapat terjadi kerusakan pada jaringan yang cedera. Misalnya ligamennya terluka lalu diberikan massage maka luka sobeknya akan semakin melebar dan pada saat kembali ke lapangan akan menjadi kendor dan terganggu stabilitasnya sehingga memudahkan terjadinya cedera ulang.

Contoh-contoh cedera olahraga :

1.    ROBEKAN OTOT (strain) dan ROBEKAN LIGAMEN (sprain)

Tanda-tanda :

-          Rasa nyeri yang umum

-          Bengkak dan memar

Strain diklsaifikasikan berdasarkan berat ringannya :

-          Derajat I : regangan serabut tendon dan otot, dengan minimal

-          Derajat II : regangan serabut tendon dengan robekan sebagian, bersamaan dengan nyeri dan bengkak.

-          Derajat III : robekan serabut otot yang luas dengan nyeri, bengkak dan kemungkinan ada yang putus.

Pada prinsipnya pertolongan pertama :

-          RICE

-          Balut tekan (pressure bandage)

-          Bantu dengan tongkat atau kruk

-          Mulai aktivitas dengan hati-hati secara bertahap

Bagaimana mencegahnya :

-          Jangan lalai berikan latihan stretching, latihan ini meningkatkan kelenturan

-          Jangan coba melakukan latihan terlalu banyak/ cepat

2.    CRAMPS

Tanda :

-          Nyeri otot yang sangat dan spasme

-          Keringat yang berlebihan

-          Tidak bereaksi terhadap massage atau stretching

Pertolongan :

-          Angkat korban ke daerah yang lebih dingin

-          Kemudian kram dihilangkan dengan massage

3.      PATAH TULANG

Tanda :

-          Adanya ruda paksa

-          Nyeri setempat dan makin bertambah bila digerakkan

-          Hilangnya fungsi

-          Terdapat perubahan bentuk

-          Nyeri tekanan/ ketok

-          Gerakan-gerakan abnormal

Pertolongan :

-          Atasi shock dan pendarahan, dijaga lapangnya jalan nafas.

-          Pasangkan bidai (spalk) atau dibebankan ke anggota badan penderita yang sehat

-          Bila adanya dugaan patah tulang, dibaringkan pada alas yang keras

-          Massage / diurut sama sekali dilarang

-          Bawalah ke rumah sakit yang terdekat untuk perawatan lebih lanjut

4.      KESELEO (strain pergelangan kaki)

-          Ligament yang putus (partial/ total)

-          Kadang-kadang dislokasi

Tanda :

-          Sakit pada sendi

-          Rasa putus

-          Fungsi menurun

-          Bengkak

-          Hematoma

Penyebab :

-          Trauma/ gerakan yang keras pada pergelangan kaki sehingga kaki terpuntir melebihi ROM

Pengobatan :

-          RICE

-          Boleh pakai bidai, tongkat, jalan dengan menunpu berat badan

-          Gips, boleh jalan setelah 21 hari

-          Kompres es 3-4 kali sehari

-          Elevasi

Untuk menghindari terjadinya kecelakaan, sangat penting untuk memberikan pertimbangan khusus bagi peregangan. Peregangan secara teratur membantu menjaga atau meningkatkan fleksibilitas dan menurunkan kemungkinan cedera. Seiring dengan peregangan, latihan bela diri juga perlu mencakup latihan rutin dimaksudkan untuk meningkatkan pendinginan dan pemanasan secara keseluruhan dan pembinaan otot saat pelatihan.

Dengan memperkuat kelompok otot, sendi, dan koordinasi, atlet akan mampu membuat latihan seni bela diri lebih aman dan bebas dari cedera. Teknik pernapasan adalah tambahan penting dalam latihan sebagai bagian dari penerapan seni bela diri. Menghembuskan napas sambil kontraksi otot dan menghirup udara sambil bertumpu pada otot dapat membantu mencegah cedera. Yang paling utama dan dirasakan sangat penting dalam melakukan latihan bela diri adalah penggunaan alat-alat pengaman seperti sarung tangan, helm, body protector dan lain-lain.

Terutama pada saat melakukan latihan bertarung atau sparing partner. Hal ini akan dapat mengurangi terjadinya resiko kecelakaan saat berlatih. Disamping itu beberapa hal yang juga memberikan perhatian adalah sebagai seorang pelatih seharusnya dibekali dengan kemampuan dalam pananganan kecelakaan pertama (first aid). Dengan pemanasan yang benar, latihan pernapasan secara teratur dan mengenakan perlengkapan penting, para pelatih bela diri dapat menghindari terjadinya kecelakaan pada saat berlatih yang akan mengahambat kemajuan pembinaan dan tingkat daya saing atletnya di masa mendatang.

Sumber : KARATE IFSU

Last Updated ( Thursday, 12 September 2013 03:05 )
 

SAMBUTAN KETUA UMUM PB. FORKI PEMBUKAAN KEJURNAS INKAI 2013

E-mail Print PDF

Yang terhormat :

1.       Ketua Umum dan jajaran PP. INKAI.2.       Rekan-rekan Pengurus Besar FORKI.3.       Ketua dan para anggota Dewan Guru INKAI.4.       Para Pimpinan Perguruan.5.       Para Ketua Umum dan Pimpinan Pengprov INKAI6.       Para Wasit, Pelatih dan Atlet yang saya banggakan.7.       Hadirin dan undangan yang berbahagia.

Assalamualaikum Wr. Wb.-        Salam Sejahtera untuk kita semua, dan-          Salam Karate … Oss

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena atas berkat dan Ridho-Nya kita diberikan kesehatan dan kekuatan sehingga bisa dipertemukan ditempat ini dalam rangka mengikuti upacara pembukaan Kejuaraan Nasional INKAI tahun 2013. Saya selaku Ketua Umum, dan seluruh jajaran  Pengurus Besar FORKI  menyambut dengan gembira sekaligus memberikan dukungan atas penyelenggaraan Kejurnas INKAI yang berlang-  sung dari tanggal 31  Mei s/d 2 Juni 2013.- Kepada seluruh jajaran Pengurus INKAI Provinsi beserta seluruh Wasit, Pelatih dan Atlet peserta KEJURNAS   saya   ucapkan   selamat   datang   di Jakarta,  tentu antusias dan atensi kehadirannya dalam mengikuti even ini adalah   semata-mata untuk meningkatkan prestasi pada tingkat nasional, sekaligus sebagai wadah membangun  tali silaturahmi antar sesama warga INKAI di tanah air  dan juga untuk saling berbagi pengalaman dalam melakukan pembinaan olahraga karate yang sama-sama kita cintai ini. 

Hadirin dan undangan yang berbahagia serta para atlet yang saya banggakan. Penyelenggaraan Kejuaraan seperti ini mutlak dilakukan setiap perguruan untuk sarana peningkatan kualitas pada tingkat nasional sekaligus mengukur kemampuan teknik atlet-atlet dari   berbagai   daerah   untuk   dijadikan  bahan evaluasi dalam melakukan pembinaan prestasi secara berjenjang, bertahap, bertingkat dan berkelanjutan.   

Oleh karena itu kepada seluruh peserta KEJURNAS bertandinglah dengan baik, tampilkan kemampuan teknik yang dimiliki serta junjung tinggi sportifitas  karena hal tersebut menunjukan kedewasaan kita dalam berkompetisi. Tentunya tujuan PB. INKAI dalam menyelenggarakan Kejuaraan Nasional ini adalah untuk sarana pemilihan atlet-atlet terbaik untuk dipersiapan dalam mengikuti even-evan lanjutan, baik tingkat Nasional FORKI maupun Internasional, terutama menghadapi kalender kegiatan kompetisi nasional yang dijadwalkan oleh PB. FORKI.

Dalam kalender kegiatan PB. FORKI  ditahun 2013 masih ada 2 Kejuaraan Nasional yaitu masing-masing :1.       KEJURNAS  Junior dan Cadet Piala MENDAGRI XVII  yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus 2013.2.       KEJURNAS Usia Dini, Prapmula dan Pemula Piala MENDIKBUD V  Oktober 2013 Even-even tersebut akan melibatkan semua perguruan anggota FORKI dan  juga FORKI Provinsi.Khusus untuk Kejurnas Piala Mendagri, atlet-atlet yang berprestasi peraih medali Emas dengan kondisi fisik yang baik setelah melalui proses tes fisik  dan   Pelatnas,  akan   diproyeksikan   untuk mengikuti Kejuaraan Dunia WKF Junior dan Cadet Championships di Guadalaraja Spanyol, pada bulan November 2013 dan  AKF Junior  Cadet Championships di Dubai Uni Emirat Arab pada bulan Desember 2013. 

Disamping itu atlet-atlet yang berprestasi pada even tersebut akan diproyeksikan untuk mendapat pembinaan lanjutan pada program Prima Pratama dan PPLP. Oeh karena itu saya meminta agar pada Kejurnas Piala MENDAGRI dan MENDIKBUD yang akan datang, supaya atlet-atlet yang dikirim oleh Perguruan maupun Pengprov FORKI haruslah benar-benar atlet pilihan yang memiliki prestasi terbaik   ditingkat   Perguruan   maupun Pengprov  FORKI, sehingga atlet-atlet yang dihasilkan dalam Kejurnas tersebut merupakan atlet-atlet terbaik dari semua atlet terbaik yang dimiliki oleh Perguruan dan Pengprov FORKI. Oleh karena itu diperlukan dukungan dari seluruh Perguruan termasuk PP. INKAI sendiri dan seluruh Pengprov FORKI agar pada saat Kejurnas Piala KASAD nanti atlet-atlet yang akan diturunkan dilakukan persiapan-persiapan yang matang dan didukung dengan program latihan yang teruji agar menghasilkan atlet yang prima dengan prestasi yang terbaik.  INKAI merupakan  salah satu perguruan yang mempunyai andil yang besar dalam menyumbangkan atlet-atlet terbaiknya untuk tim  nasional Indonesia, hampir setiap PB. FORKI melakukan pemusatan latihan nasional selalu ada atlet dari perguruan INKAI.     

Hadirin dan undangan serta seluruh atlet peserta Kejurnas yang saya banggakan. Pada kesempatan yang berbahagia ini saya menghimbau kepada seluruh peserta Kejurnas, baik atlet, pelatih maupun wasit juri,  laksanakan tugas masing-masing dengan baik dan professional, agar Kejurnas ini memiliki bobot yang baik dan teruji. Kepada semua atlet yang bertanding tunjukan semua prestasi yang terbaik dan raihlah prestasi yang gemilang, hormati semua keputusan wasit dan juri yang memimpin pertandingan.Untuk semua pelatih dan tim manager berikanlah arahan yang baik kepada atlet-atlet yang kalian bina agar mereka bisa tampil dengan baik dan maksimal, dan jangan memprofokasi masalah-masalah yang dihadapi dilapangan dengan emosional dan berlebihan sehingga dapat mengakibatkan  terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dan mengganggu jalannya perandingan.  

Kepada seluruh wasit dan juri yang bertugas memimpin jalannya pertandingan, lakukanlah tugas kalian dengan profesional, karena dengan kepeminpinan yang baik akan menghasilkan kompetisi yang baik pula, jangan melakukan pengambilan keputusan yang tidak sesuai dengan kenyataan  dan hati nurani,   karena  hal ini  akan mencoreng nama baik kalian serta profesi perwasitan dan bisa memicu protes-protes yang akhirnya bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan. 

Hadirin dan undangan serta peserta kejurnas yang saya hormati. Pada kesempatan yang berbahagia ini saya perlu menyampaikan bahwa Indonesia akan menggelar 2 even Internasional  yaitu WKF Premier League tanggal 22-23 Juni 2013 di Istora Senayan Jakarta dan Islamic Solidarity Games yang akan dilaksanakan pada bulan September 2013 di Riau. Pengurus Besar FORKI memohon dukungan dari semua pihak termasuk Perguruan INKAI,  agar dalam   menghadapi   even - even  tersebut dapat terselenggara dengan baik dan tentunya disertai dengan keberhasilan tim Indonesia meraih prestasi yang gemilang. 

Mengakhiri sambutan ini kembali saya ucapkan kepada seluruh atlet selamat bertanding raihlah prestasi yang terbaik. Kepada Pengurus Besar PP. INKAI saya ucapkan terima kasih atas undangan ini, dan tentunya apa yang menjadi program utama perguruan INKAI dalam kiprahnya membangun olahraga karate ditanah air PB. FORKI akan terus mendukunganya,  karena  sumbangsih  atlet-atlet dari Perguruan INKAI telah teruji dengan prestasi-prestinya yang mampu membawa tim nasional Indonesia  berjaya di pentas olahraga Internasional.   

MARI KITA BERSATU DEMI MERAH PUTIH,  MAJULAH INKAI, HIDUP FORKI, JAYALAH INDONESIA KU Akhirnya dengan memohon ridho dari Tuhan yang Maha Esa saya selaku Ketua Umum PB. FORKI membuka secara resmi pelaksanaan Kejuaraan Nasional INKAI tahun 2013. 

Selamat bertanding...  Terima kasih...  

Oss....Wassalamualaikum Wr. Wb. 

Pengurus BesarFederasi Olahrga Karate-Do Indonesia

Ketua Umum 

     Ttd. 

Drs. H. Hendardji _ S. SH.

Last Updated ( Friday, 31 May 2013 11:00 )
 

SEJARAH BERDIRINYA INKAI

E-mail Print PDF

Pada tanggal 15 April 1971, di Jakarta, beberapa karateka aliran Shotokan mendirikan suatu
perguruan dengan nama Institut Karate-Do Indonesia (INKAI) dengan ketua umum pertamanya Letjen TNI G.H. Mantik dan sebagai ketua dewan guru Drs. Sabeth Mucshin dengan anggota Wono Sarono, Ottoman Noeh, A. Latief, Dr Nico A. Lumenta, Albert Lumban Tobing dan A.S.J. Siregar.

Tanggal 25 Mei 1971, INKAI resmi berdiri sebagai perguruan anggota FORKI dan oleh PB FORKI, INKAI ditunjuk mewakili Indonesia mengikuti kejuaraan karate WUKO 1 di Jepang. Dan Inkai juga merupakan anggota resmi afiliasi JKA yang bekedudukan di Jepang.

Dalam perkembangannya INKAI di Indonesia mengalami perkembangan yang begitu pesat ini terbukti bahwa disetiap pelosok tanah air ada Cabang dari perguruan INKAI.

SEJARAH KARATE DI INDONESIA

Karate masuk di Indonesia bukan dibawa oleh tentara Jepang melainkan oleh Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang kembali ke tanah air, setelah menyelesaikan pendidikannya di Jepang. Tahun 1963 beberapa Mahasiswa Indonesia antara lain: Baud AD Adikusumo, Karianto Djojonegoro, Mochtar Ruskan dan Ottoman Noh mendirikan Dojo di Jakarta. Mereka inilah yang mula-mula memperkenalkan karate (aliran Shoto-kan) di Indonesia, dan selanjutnya mereka membentuk wadah yang mereka namakan Persatuan Olahraga Karate Indonesia (PORKI) yang diresmikan tanggal 10 Maret 1964 di Jakarta.

Beberapa tahun kemudian berdatangan ex Mahasiswa Indonesia dari Jepang seperti Setyo Haryono (pendiri Gojukai), Anton Lesiangi, Sabeth Muchsin dan Chairul Taman yang turut mengembangkan karate di tanah air. Disamping ex Mahasiswa-mahasiswa tersebut di atas orang-orang Jepang yang datang ke Indonesia dalam rangka usaha telah pula ikut memberikan warna bagi perkembangan karate di Indonesia.

Mereka-mereka ini antara lain: Matsusaki (Kushinryu-1966), Ishi (Gojuryu-1969),
Hayashi (Shitoryu-1971) dan Oyama (Kyokushinkai-1967).

Karate ternyata memperoleh banyak penggemar, yang implementasinya terlihat muncul dari berbagai macam organisasi (Pengurus) karate, dengan berbagai aliran seperti yang dianut oleh masing-masing pendiri perguruan. Banyaknya perguruan karate dengan berbagai aliran menyebabkan terjadinya ketidak cocokan diantara para tokoh tersebut, sehingga menimbulkan perpecahan di dalam tubuh PORKI. Namun akhirnya dengan adanya kesepakatan dari para tokoh-tokoh karate untuk kembali bersatu dalam upaya mengembangkan karate di tanah air sehingga pada tahun 1972 hasil Kongres ke IV PORKI, terbentuklah satu wadah organisasi karate yang diberi nama Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia (FORKI).

Sejak FORKI berdiri sampai dengan saat ini kepengurusan di tingkat Pusat yang dikenal dengan nama Pengurus Besar/PB. telah dipimpin oleh 6 orang Ketua Umum dan periodisasi kepengurusannyapun mengalama 3 kali perobahan masa periodisasi yaitu ; periode 5 tahun (ditetapkan pada Kongres tahun 1972 untuk kepengurusan periode tahun 1972 – 1977) periodisasi 3 tahun (ditetapkan pada kongres tahun 1997 untuk kepengurusan periode tahun 1997 – 1980) dan periodisasi 4 tahun ( Berlaku sejak kongres tahun 1980 sampai sekarang).

Di tahun 1964, kembalilah ke tanah air salah seorang mahasiswa Indonesia yang telah menyelesaikan kuliahnya bernama Baud A.D. Adikusumo. Ia adalah seorang karateka yang mendapatkan sabuk hitam dari M. Nakayama, JKA. Ia mulai mengajarkan karate. Pada Tahun 1967 beliau berkumpul dengan dua mahasiswa Indonesia yang juga telah menyelesaikan kuliah dari Jepang yakni Sabeth Mukhsin dan Anton Lesiangi. Pada tahun 1970, Sabeth Mukhsin beserta dengan Baud A.D. Adikusumo dan Anton Lesiangi Mendirikan PORKI (Persatuan Olah Raga Karate Indonesia) yang kemudian berganti nama menjadi FORKI (Federasi Olahraga Karate Indonesia).

Pada waktu itu Sabeth Mukhsin telah mendapatkan tingkatan DAN 3 dari JKA (Japan Karate Association) yang merupakan DAN tertinggi di Indonesia pada waktu itu, Anton Lesiangi (DAN 1 JKA) dan Baud A.D. Adikusumo (DAN 1 JKA) Sabeth Mukhsin, Anton Lesiangi beserta Baud A.D.Adikusumo akhirnya mendirikan Lembaga Pendidikan Karate yg disebut INKAI (Institut Karate-Do Indonesia) pada tahun 1971 yang dikenal sebagai Perguruan (Lembaga Pendidikan) pertama di Indonesia.

Beberapa tahun kemudian Baud A.D. Adikusumo mendirikan Institut Karate Do (INKADO) dan Anton Lesiangi mendirikan Perguruan Lemkari (Lembaga Karate-Do Indonesia), yang pada dekade 2005 karena urusan internal banyak anggota Lemkari yang keluar dan dipecat yang kemudian mendirikan INKANAS (Institut Karate-do Nasional) yang merupakan peleburan dari perguruan MKC (Medan Karate club).

Dari situlah berkembang apa yg disebut Aliran Karate lain yaitu Wado dibawah asuhanWado-ryu Karate-Do Indonesia (WADOKAI) yang didirikan oleh C.A. Taman dan Kushin-ryu Matsuzaki Karate-Do Indonesia (KKI) yang didirikan oleh Matsuzaki Horyu.

Selain itu juga dikenal Setyo Haryono dan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Goju-ryuNardi T. Nirwanto dengan beberapa tokoh lainnya membawa aliran Kyokushin. Aliran Shito-ryu juga tumbuh di Indonesia dibawah perguruan GABDIKA Shitoryu (dengan tokohnya Dr. Markus Basuki) dan SHINDOKA (dengan tokohnya Bert Lengkong). Selain aliran-aliran yang bersumber dari Jepang diatas, ada juga beberapa aliran Karate di Indonesia yang dikembangkan oleh putra-putra bangsa Indonesia sendiri, sehingga menjadi independen dan tidak terikat dengan aturan dari Hombu Dojo (Dojo Pusat) di negeri Jepang.

Pada tahun 1972, 25 perguruan Karate di Indonesia, baik yang berasal dari Jepang maupun yang dikembangkan di Indonesia sendiri (independen), setuju untuk bergabung dengan FORKI (Federasi Olahraga Karate-Do Indonesia), yang sekarang menjadi perwakilan WKF (World Karate Federation) untuk Indonesia. Dibawah bimbingan FORKI, para Karateka Indonesia dapat berlaga di forum Internasional terutama yang disponsori oleh KONI…

Pada Tahun 1985 terjadi kericuhan di badan organisasi FORKI, dan muncullah induk organisasi cabang olahraga Karate yang baru yang disebut PKSI (Persatuan Karate Seluruh Indonesia) yang memakai sistem organisasi Cabang Olahraga yang memiliki kurikulum baku tanpa menganut Aliran Karate.

Pada tahun 2000, PKSI pun berganti nama menjadi FKTI (Federasi Karate Tradisional Indonesia) Sampai saat ini di Indonesia ada 2 Induk Organisasi Cabang Olahraga Karate, yakni FORKI (yang menganut Cabang Olahraga Karate Aliran) dan FKTI (yang menganut Cabang Olahraga Karate tanpa Aliran).

Sumber : Bondan Widjayanto Purwo Ageng Pambudhi

http://bwpap.wordpress.com/artikel/

Last Updated ( Sunday, 28 April 2013 09:57 )
 
Page 5 of 27

Banner


Myanmar, Desember 13-15, 2013
Download PDF
WKF Approved Homolagated Items